10 fakta yang harus diketahui trader Indonesia

10 fakta yang harus diketahui trader Indonesia

Bagi trader maupun investor pemula, seringkali kebingungan kenapa satu tick di harga saham ABCD berbeda dengan satu tick di harga saham WXYZ. Namun terkadang satu tick di harga saham AAAA sama dengan satu tick di harga saham BBBB. Lalu sebenarnya kenapa itu bisa terjadi? Dan apa fakta menarik dibalik itu?

Sebelumnya, kita harus tahu dulu apa itu tick. Tick adalah pergerakan harga satu poin baik ke atas atau ke bawah dari suatu harga saham. Satu tick di suatu harga saham akan berbeda sesuai dengan harga sahamnya. Alhasil, satu tick di suatu harga saham akan berbeda dalam hal persentasenya. Contohnya saham-saham murah akan lebih besar dalam hal persentase dibandingkan saham-saham mahal.

QUOTE: Tick berkorelasi dengan Fraksi Harga

Perlu diketahui bahwa harga saham dikelompokkan oleh Bursa Efek Indonesia sesuai dengan tabel di bawah ini. Berdasarkan tabel tersebut, harga saham 50 – 200, satu tick akan sama dengan satu rupiah. Sedangkan harga saham 200 – 500, satu tick setara dengan dua rupiah. Begitu pun seterusnya hingga harga saham lebih dari sama dengan 5000, satu tick setara dengan 25 rupiah.


Pada tabel di bawah ini menunjukkan contoh aplikasi fraksi harga yang berbeda-beda sesuai dengan kelompok harga sahamnya. Contoh lainnya dapat dilihat pada saham BBCA dan GGRM yang memilki harga lebih dari 5000 per lembarnya dan satu ticknya tetap 25 rupiah. Lebih lanjut, dalam satu hari, pergerakan harga saham dapat melampaui kelompok kerja yang berbeda. Misalkan jika saat open market, harga suatu saham adalah 490 (yang berarti memiliki fraksi harga sebesar 2). Namun, saat berjalannya market, harga saham melewati kelompok kerja 3 yang memiliki rentang 500 hingga 2000. Maka disaat itu juga, fraksi harga akan berubah dari 2 rupiah menjadi 5 rupiah.


Pada umumnya, harga saham yang murah, khususnya 50 rupiah hingga 500 rupiah per lembar saham, akan cenderung bergerak lebih liar dibandingkan harga saham yang besar. Alasannya karena harga saham tersebut tergolong murah sehingga orang-orang baik retail maupun Manajer Investasi mampu untuk membeli dan menggerakkan harga saham. Maka dari itu, kenaikan harga saham hingga Auto Reject Atas (ARA) ataupun penurunan harga saham hingga Auto Reject Bawah (ARB) cukup sering terjadi ditambah dengan berita yang bertebaran dan menimbulkan fear dan greed bagi retail khususnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *