Cara Mencari Exit Position Dengan Indikator?

Cara Mencari Exit Position Dengan Indikator?

bagaimana caranya mencari exit position dengan indikator teknikal?

Untuk hal ini tergantung dari indikator yang digunakan. Sebagai contoh kami sajikan bagaimana exit position menggunakan pivot point dan parabolic sar : Menerapkan Entry Dan Exit Pada Pivot Point dan Indikator Parabolic Sar Sebagai Exit Point.

sebaiknya menggunakan indikator trading seperti trend dan oscillator, dan saat harga sudah jenuh dan tidak sesuai trend sebaiknya posisi segera ditutup. terimakasih

Tapi gan, oscillator kan meski udah jenuh tetep bisa aja terus melanjutkan perjalanannya. Nanti kalau udah terlanjut di close posisinya yang rugi ga ketutup donk. Yang untung juga malah tambah dikit profitnya.

Betul kata pak Sugiono. kalau patokannya oscillator bisa lanjut terus meski udah ovebought atau oversold. Mari serahkan ke pak m singgih atau tim sf saja jawabannya

@ aan lee, ChrisTar:

Dengan exit point yang mengandalkan indikator teknikal, berarti Anda akan menutup posisi secara manual, atau tidak menentukan target ketika entry. Dengan exit secara manual, belum tentu risk/reward ratio Anda lebih besar dari 1:1. Biasanya exit secara manual dilakukan kalau Anda trading dengan cara scalping, yaitu begitu profit langsung keluar.

Untuk exit secara manual berdasarkan indikator teknikal, tergantung dari kondisi pergerakan harga, sedang trending atau sideways. Jika sedang trending, Anda bisa exit berdasarkan penunjukan indikator trend seperti moving average, MACD, parabolic SAR atau Bollinger Bands.
Jika sedang sideways, exit manual bisa berdasarkan indikator oscillator seperti RSI atau stochastic, dengan mengamati area oversold / overbought.
Untuk penerapannya, silahkan baca di kumpulan artikel ini.

Untuk mengetahui pergerakan harga sedang trending atau sideways, bisa diamati dari indikator ADX, moving average, atau MACD.

Ya, benar, untuk itu sebelum closing secara manual, pastikan pergerakan harga sedang trending atau sideways, dengan mengamati indikator ADX, moving average, atau MACD.

Biasanya kurva atau garis histogram ADX yang menurun menunjukkan trend yang sedang melemah, dan jika sudah di bawah level 20-25, biasanya pergerakan harga akan cenderung sideways. Tetapi kalau ADX masih di atas 25 dan tidak ada tanda-tanda penurunan, maka trend masih kuat, dan tidak harus exit berdasarkan indikator oscillator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *