Jadi Sekolah Penggerak, SD Muh1 Ketelan Solo Bentuk Forum Komunitas Praktisi

Jadi Sekolah Penggerak, SD Muh1 Ketelan Solo Bentuk Forum Komunitas Praktisi

Jadi Sekolah Penggerak, SD Muh1 Ketelan Solo Bentuk Forum Komunitas Praktisi

Eduwara.com, SOLO -- Penerapan Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak SD Muhammadiyah (Muh) 1 Ketelan Solo berjalan baik. Kurikulum ini sudah berjalan lebih kurang satu semester sejak tahun pelajaran 2021/2022 dimulai.

Wakil Kepala (Waka) Kurikulum SD Muh 1 Ketelan Solo Imam Priyanto mengungkapkan pada tahap awal, Kurikulum Prototipe baru diterapkan di kelas I dan IV. Hal ini karena Kurikulum Prototipe perlu dilakukan secara bertahap.

"Pembelajaran di Kurikulum Prototipe ini merupakan pembelajaran dengan paradigma baru. Siswa bukan lagi menjadi objek, melainkan subjek. Siswa menjadi pusatnya. Pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sedangkan guru hanya memupuk, mendampingi, dan mengarahkan," kata Imam saat ditemui Eduwara.com di SD Muh 1 Ketelan, Selasa (18/1/2022).

Metode pengajaran Kurikulum Prototipe berusaha agar anak menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Anak diajak berkreasi sesuai keinginannya. Guru berlaku sebagai fasilitator. Tujuannya agar siswa berkarakter Pelajar Pancasila.

Imam melanjutkan, penerapan Kurikulum Prototipe di sekolah juga melibatkan ahli dan praktisi yang berasal dari orang tua siswa. Orang tua diajak kerja sama untuk memberikan sumbangsih kepada sekolah berupa keahlian-keahlian yang mereka miliki.

"Kami membentuk Forum Komunitas Praktisi yang anggotanya orang tua siswa. Mereka yang mempunyai keahlian tertentu dikumpulkan dan diminta untuk mengajarkan kepada siswa. Ada lima forum praktisi, yaitu Tata Boga, Tata Busana, TIK, Kesenian, dan Olahraga. Misal ada orang tua yang ahli Tata Boga, kami minta orang tua siswa tersebut bisa mengajarkannya kepada siswa," jelas dia.

Waka Kurikulum SD Muh 1 Ketelan Solo, Imam Priyanto saat ditemui Eduwara.com. (EDUWARA/M Diky Praditia)

Sekolah tidak memaksa siswa untuk memilih keahlian tertentu. Siswa bisa memilih keahlian yang ingin mereka pelajari sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan begitu, antara sekolah, siswa, dan orang tua terjadi sinergitas.

"Model pembelajaran seperti ini disenangi oleh siswa. Sebab siswa merasa benar-benar dilibatkan dan diperhatikan. Siswa tidak mudah jenuh karena beberap kali siswa belajar di luar kelas," tutur Imam.

Sejuah ini, menurut Imam, sudah terlihat perbedaan karakter antara siswa yang sudah menerapkan dengan siswa yang belum menerapkan Kurikulum Prototipe. Siswa kelas I dan IV terlihat lebih aktif dan berani. Dalam pembelajaran mereka sering berdiskusi, ada umpan balik antara siswa dan guru sehingga komunikasi yang terjadi merupakan komunikasi dua arah.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Muh 1 Ketelan Solo, Sri Sayekti berharap program Sekolah Penggerak tetap on the track. Tidak seperti program-program yang lalu, yang hanya sebatas diklat, kemudian guru dan sekolah dilepas begitu saja.

"Setiap program yang dilaksanakan di sekolah harus didampingi. Harus ada pelatihan, pemantauan, dan project management office. Sekolah dan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Dinas Pendidikan daerah mengadakan evaluasi, membahas masalah-masalah yang muncul terkait program Sekolah Penggerak," ungkap Sri Sayekti.

Sri Sayekti menambahkan, program Sekolah Penggerak ini semuanya berbasis data. Tidak bisa hanya asal omong. Semua program dan kegiatan harus ada bukti nyata, ada administrasi dan dokumentasi." Jadi tidak hanya asal bapak senang," imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *